Surat Untuk Seorang Pemuda
“20 something and still alive. We are in our best of times and our worst of times, trying as hard as we can to figure this whole thing out.
Halo, selamat malam. Apa kabarmu anak muda?
Aku harap kamu dalam keadaan baik-baik saja. Aku tahu, setahun belakangan ini adalah tahun yang tidak mudah bagimu. Mengawali dengan kehilangan cinta dan terus berlanjut terluka lagi dan lagi hingga penutup tahun kemarin. Dan bahkan akhir tahun kemarin, kamu kehilangan nenek yang sangat kamu sayang. Tapi aku tahu siapa dirimu? Bukankah terluka adalah hal yang biasa? Dan ini bukanlah hal yang pertama kali terjadi ya kan? Pernah terluka bukan berarti kita menjadi kapok jatuh cinta bukan?
Aku sudah mengenalmu dari dulu. Kehilangan seseorang tidak membuatmu kehilangan selera humormu. Iya, kamu selalu bisa membuat lelucon atas hal buruk yang terjadi padamu. Sesekali mungkin tidak apa-apa. Tapi menunjukan kesedihan juga bukanlah hal yang buruk. Itu manusiawi kok. Tidak usah malu. Justru kita harus malu jika kita tidak bisa jujur bahkan kepada hati dan diri kita sendiri.
Bahkan pekerjaanmu pun tahun ini tidak seperti tahun lalu. Tapi aku juga tahu siapa dirimu. Banyaknya tekanan tidak akan membuatmu menyerah begitu saja. Iya kan?
Hidup memang kadang seperti papan permainan ular tangga, terkadang pion yang kita mainkan selalu menemui ular, yang membuat kita turun menuju kotak terbawah. Berkali-kali dadu yang keluar, tidak pernah mengeluarkan angka yang mengantarkan bertemu tangga. Tapi bukan berarti kita menyerah dan berhenti berusaha. Teruslah mengocok dadu di papan ular tangga bernama Pekerjaan dan Cinta. Mungkin selama perjalanan, kita tidak pernah menemui tangga yang langsung mengantarkan kita ke kotak lebih tinggi, tapi minimal pion kita masih melangkah, sekotak demi sekotak, setahap demi setahap. Dan percayalah suatu saat nanti, pion yang kita mainkan akan sampai di kotak teratas. Bukankah hanya itu batas kemampuan kita, mengocok dadu dan berdoa agar angka yang dihasilkan sesuai dengan keinginan kita. Mengenai hasilnya, serahkan pada-Nya.
Sekarang cobalah lihat ke depan. Tidak ada apa-apa lagi yang perlu dilihat dibelakang. Seperti yang si Zarry pernah bilang, ini bukan saatnya mengejar yang meninggalkanmu, tapi saatnya mengejar ketertinggalanmu. Ingat-ingatlah semua tempat yang pernah kau singgahi, setiap ruas jalan yang pernah kau lewati, setiap mahluk yang pernah kau temui dan setiap cinta yang pernah terukir di dadamu. Lihatlah sekali lagi, mana saja yang pernah teraih dan mana saja yang kini telah menghilang. Jadikan itu suatu pelajaran. Bukan jadikan itu suatu tempatmu berdiam tak bergerak.
Cobalah susun kembali puzzle kehidupanmu. Mungkin yang kemarin bukanlah kepingan puzzle terakhir, yang melengkapi dan membuat gambar kehidupan menjadi jelas.
Dan mengutip dengan sedikit perubahan kata-kata Adithya Mulya, di hari ini aku cuma bisa berdoa, semoga dirimu diberi:
Ketaatan ibadah seperti usia 58 tahun
Keibijaksanaan seperti usia 48 tahun
Kedewasaan seperti usia 38 tahun
Semangat seperti usia 18 tahun
Dan imajinasi seperti usia 8 tahun.
Selamat hari lahir untukmu.
Salam
Kisanak.

Oh Dendi ulang tahun ya??
Selamat hari lahir ya Den, makin sukses dunia akhirat, amin
misstitisari said this on 24 January , 2012 at 10:45 am |
Amin. Makasih Titi
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!
Dendi Riandi said this on 24 January , 2012 at 1:28 pm |