Why Travelling?
Teringat salah satu notes di FB teman gue Roy Saputra, dan tiba-tiba berpikiran hal yang sama.
Pernahkah kalian membayangkan, 50 tahun dari sekarang, ketika kerut menghiasi wajah kita, uban menutupi kepala kita, dan mobil terbang serta perjalanan antar negara menjadi hal yang biasa, kemudian salah satu cucu kita yang sedang duduk di pangkuan kita bertanya kepada kita;
“Kek, ceritain dong waktu jaman kakek masih muda dulu. Kakek ngapain aja? Ada pengalaman seru gak?”
Lalu dengan datarnya kita jawab:
“Dulu waktu kakek masih muda sih ya normal-normal aja. Dari kecil sampe kuliah Kakek dianterin supir pake mobil. Paling jalan-jalan ke mall. Nonton bioskop sama teman-teman. Waktu jaman kerja juga ya gitu-gitu aja, rumah-kantor-rumah. Gak ada yang bisa Kakek ceritain”
Atau kita bisa menjawab sambil tersenyum:
“Dulu Kakek pernah nyasar gara-gara salah naik Metromini lho!”
Atau juga menjawab sambil mata menerawang jauh:
“Dulu Kakek pernah menyusuri Semenanjung Malaka sendirian. Naik bus lagi!”
Kira-kira mana yang akan kalian pilih untuk cucu kita dengarkan nanti?
***
Siang tadi gue beli 2 buku. Satunya buku Manusia Setengah Salmon-nya Raditya Dika, dan satunya lagi Life Traveler-nya Windy Ariestanty. Baca beberapa halaman buku-nya si Radit entah kenapa jadi ngantuk. Kemudian gue baca buku kedua, Life Traveler. Gue kira ini suatu bacaan “berat”. Ternyata gue lebih terhanyut sama penuturan si Mbak Windy di buku ini. Baru baca setengah bukunya, tapi ngebaca-nya gak ngebosenin. Bercerita tentang Backpacking dia dan teman-temanya ke Indochina. Dan gue jadi tiba-tiba teringat perjalanan Backpacking gue beberapa bulan lalu ke Semenanjung Malaka.
***
Backpacking. Kalau ditanya kenapa harus Backpacking ke luar negeri? Kenapa gak pake Tour and Travel? Kan lebih aman dan nyaman.
Secara garis besar kalau gue simpulkan ada 3:
- Budget
- Freedom.
- Experience
Gue bukanlah dari keluarga mampu, dimana orang tua gue sanggup membiayai perjalanan ke luar negeri semudah membeli gorengan di pinggir jalan, karena gue ulang tahun atau sekedar hadiah liburan kenaikan kelas atau membiayai kuliah S2 gue di salah satu Universitas bertaraf International.
Gue juga bukan anak yang pintar, yang ber-IPK Cum Laude dan nilai TOEFL gue sangat tinggi sehingga bisa mendapat beasiswa kuliah gratis di luar negeri.
Gue juga tidak bekerja di perusahaan Multi National Company atau semacamnya, dimana perjalanan dinas atau training ke luar negeri adalah hal yang lumrah dan biasa.
Gue juga bukan pegawai teladan dan berprestasi sehingga perusahaan tempat gue bekerja bisa mengirimkan gue untuk kuliah lagi di Luar Negeri atau karena mendapat reward atas prestasi suatu penjualan produk yang hadiahnya bisa jalan-jalan ke luar negeri.
Gue juga bukan orang yang selalu beruntung sehingga bisa memenangkan kuis atau undian apapun yang berhadiah jalan-jalan ke luar negeri.
Well, gampangnya gue cuma orang biasa yang belum pernah ke luar negeri sama sekali seumur hidupnya tapi mempunyai mimpi jalan-jalan keluar negeri.
Kenapa backpacking? Kenapa gak pake Tour and Travel?
Alasan yang pertama budget gue terbatas tapi gue pengen mengunjungi banyak tempat. Yang kedua, sehari-hari gue udah cukup dibatasi oleh aturan yang mengikat. Dari mulai jam masuk kantor, cara berpakaian dll. Gue gak mau jalan-jalan gue dibatasi dan diatur-atur oleh orang lain, gue mau kemana, kapan gue pergi dan dengan siapa. Gue pengen menikmati kebebasan diri sendiri selama seminggu penuh.
Terus kenapa sendiri?
Well, apakah harus gara-gara orang lain akhirnya lo membatalkan perjalanan yang udah direncanakan? Gue gak mau seperti itu.
***
Dan setelah semua alasan yang dikemukakan di atas, perjalanan ke negeri asing, di negeri orang lain, sendirian, sebuah perjalanan, apapun bentuknya: adalah A Life Time Experience yang menurut gue gak bisa dibeli dengan duit berapapun.
Gue jadi teringat perjalanan jauh pertama gue. Waktu itu gue kelas 2 SMP. Suntuk karena liburan gak kemana-mana, gue meminta ijin ke orang tua gue untuk liburan ke rumah nenek gue sendirian. Dari rumah gue di Serang ke rumah nenek gue di Depok. Naik bus. Sendirian. Iya Serang-Depok itu deket. Tapi jaman dulu, tahun 97-an, bagi anak kelas 2 SMP itu suatu perjalanan yang cukup jauh. Dan cukup nekat!
Yang kedua waktu kelas 2 SMA. Gue pengen jalan-jalan ke Bandung. Tapi gak punya teman atau saudara sama sekali di Bandung. Kebetulan kelas pengen mengadakan perpisahan di Bandung. Kebetulan yang cocok sebagai alibi. Sebagai ketua kelas, gue nawarin diri untuk survey tempat, padahal buta Bandung sama sekali. Ke sana berangkat sendiri. Cuma janjian ketemu di Bandung, sama teman sekelas yang kebetulan mau liburan ke rumah saudaranya di Bandung. Kalo sekarang sih enak banyak Travel yang langsung. Kalo dulu gak ada sama sekali. Pengalaman tak terlupakan: salah naik bus, nyasar di terminal Purwakarta, kekurangan duit, mau tarik atm terus atm-nya tertelan dan harus nunggu verifikasi data di Bank yang cukup lama agar atm-nya bisa diambil lagi. Keliling Bandung cari-cari ATM karena kartu ATM-nya udah rusak dan gak bisa diterima di beberapa mesin ATM. Ke sana, gue gak tau menginap di mana. Duit pas-pasan. Teman sekelas gue yang ketemu di Bandung itu cewek, jadi gak mungkin menginap di rumah neneknya, akhirnya gue ditawarin buat menginap di salah satu rumah temannya yang cowok. Jadilah gue menginap di rumah orang yang baru pertama kali ketemu.
Travelling selalu mempertemukan gue dengan orang-orang asing yang baik walau baru pertama kali kenal.
Waktu di Singapore, gue ketemu dengan Susi, seorang TKW yang ngasih tau gue jalan karena nyasar dan mengajak makan siang bareng dengan TKW-TKW lain yang sedang berkumpul di bawah jembatan City Bay dengan beralaskan tikar. Atau di Malaysia, ketemu dengan Mas Gufron, seorang TKI juga yang menawarkan menginap di Apartemen-nya bareng 3 teman-TKI lainnya asal Indonesia dan mengajak jalan-jalan keliling Kuala Lumpur. A Free Tour Guide. Atau ketika di Thailand, bertemu dengan teman ngobrol yang asik, Lindsay, backpacker cewek asal Amerika yang keliling Asia sendirian.
“Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang tidak kita duga dan jauh dari rumah itu sendiri. Menemukan teman, sahabat, saudara. Mungkin juga Cinta. Mereka-mereka yang memberikan rumah itu untuk kita, apapun bentuknya. And yes, whereever you feel peacefulness, you might call it home.
Namun yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan kita sendiri.
We never know what ‘comeback’ is, if we havent been anywhere.
– Windy A, Life Traveler
***
Catatan perjalanan Mbak Windy dalam Life Taveler, cerita di Sleeping Bus, menyusuri jalanan panjang, belasan jam duduk dan tidur di dalam bus di malam hari dari Vietnam ke Kamboja, mengingatkan gue akan perjalanan gue juga di dalam Sleeping Bus hingga pantat panas dan kesemutan, Cuma rute yang gue tempuh adalah Singapore – Johor Baru – Kuala Lumpur – Hatjai – Phuket – Bangkok.
Dan tiba-tiba kepikiran untuk membuat resolusi 2012 gue: Backpacking ke Vietnam dan Kamboja. With friends or another solo backpacking, i must go to those places!
-dendiout-

ehhh kapan Den rencana mau ke Vietnam-Kamboja? info2 dong siapa tahu waktunya pas dan bisa gabung
misstitisari said this on 11 January , 2012 at 6:12 am |
gak tau nih. tau jadi apa enggak. sibuk bgt kerjaan.
dendi said this on 25 January , 2012 at 9:19 pm |
eit dah rumah baru
d tunggu ah crita travellernya
*pertambahan usia=keseriusan, butuh sesuatu untuk saya bisa tertawa om
neng geulis said this on 13 January , 2012 at 12:03 am |
ini rumah udah lama kok. malah ini rumah pertama bgt. iya nih butuh tulisan yg lucu2.
dendi said this on 25 January , 2012 at 9:20 pm |
Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang tidak kita duga dan jauh dari rumah itu sendiri. Menemukan teman, sahabat, saudara. Mungkin juga Cinta. Mereka-mereka yang memberikan rumah itu untuk kita, apapun bentuknya.
bettul banget *angguk2
nuning nune said this on 13 January , 2012 at 4:18 pm |
hmmmmm
dendi said this on 25 January , 2012 at 9:20 pm |