I love You, Mom!
Udah lama gak nulis di blog, mumpung saya masih muda, jomblo dan ganteng, ada baiknya kembali menulis.
Kalo mendengar kata Ibu atau Mama atau Bunda atau apapun sebutannya, apa yang kalian pikirkan? Well, bagi saya pribadi adalah ketenangan dan kehangatan.Adarasa hangat dan tenang ketika bicara di dekat dia dan bercerita segalanya dengannya. Saya termasuk orang yang tertutup, jarang bercerita tentang diri saya kepada orang lain, bahkan dengan teman dekat ataupun keluarga sendiri. Tapi tidak dengan ibu saya. Di dekatnya, sepertinya saya tidak bisa menutupi apa yang saya rasakan dan pikirkan. Semuanya bisa mengalir sendiri.
Saya ingin bercerita sedikit tentang ibu saya, atau saya biasa menyebutnya Mamah.
Mamah, bagi saya orang yang sangat kuat, ulet (bukan sejenis binatang kecil cikal bakal kupu-kupu) dan tidak pantang menyerah. Ibu saya bukan seorang wanita karir seperti mungkin kebanyakan dari kalian. Dulu ibu saya pernah bekerja di pabrik, – yang akhirnya dipertemukan dengan Bapak saya di pabrik itu. Namun semenjak melahirkan saya (saya anak kedua), Ibu saya memutuskan menjadi Ibu Rumah Tangga biasa untuk mengurus anak-anaknya. Kemudian Bapak saya berhenti bekerja dari Pabrik dan bekerja serabutan sana-sini dan akhirnya menjadi Pegawai Negeri Sipil rendahan biasa. Namun dengan gaji hanya beberapa ratus ribu rupiah, ternyata penghasilam Bapak tidak cukup untuk menghidupi keluarga kami.
Akhirnya untuk membantu perekonomian keluarga kami, Ibu saya memutuskan untuk berjualan. Usaha yang pertama dilakukan adalah berjualan keripik talas. Saya masih ingat ketika umur saya masih 3-4 tahun, ketika saya masih lucu-lucunya dan paling tampan di antara teman-teman sebaya saya *protes bayar!*, saya dan (alm) kakak saya membantu membungkuskan keripik talas yang akan dijual ke dalam plastik. Jaman dahulu sangat sulit membeli stapler, jadinya kami memakai lilin dan memanaskan ujung plastik untuk membungkus keripik talas tersebut supaya tetap awet tidak terkena udara. Namun ternyata berjualan keripik talas sangat sulit. keuntungannya tidak sebanding dengan Usaha yang dikeluarkan. Setelah itu, Ibu saya berganti-ganti berjualan yang saya lupa apa saja. Yang terakhir adalah berjualan sayur-mayur mentah. (sayur-mayur, bumbu dapur, ikan, ayam dll). Bertahun-tahun Usaha tersebut dijalani, usahanya semakin maju. Dulu yang hanya berjualan sepetak meja kayu biasa, sekarang sudah bisa membangun sebuah warung sederhana di depan rumah kami. Dan dari Usaha berjualan sayur-mayur tersebutlah sangat membantu gaji Bapak saya yang tidak seberapa. Sampai sekarang ini, ibu saya masih berjualan sayur di depan rumah, disebuah warung sederhana di depan rumah kami. Saya tidak pernah malu jika disebut Cuma anak tukang sayur, karena percaya tidak percaya, saya bisa seperti ini juga karena sebagian besar dari hasil berjualan sayur Ibu saya.
Saya masih ingat beberapa tahun lalu waktu baru saja selesai diwisuda, ketika itu ibu saya bercerita tentang saya yang masih duduk di kelas 1 SMP, dan (alm) kakak saya kelas 2 SMP ditanya oleh ibu saya mau menjadi apa setelah besar nanti? Kami berdua dengan kompak menjawab akan melanjutkan kuliah dan bekerja di kantoran. Waktu itu Ibu saya bilang, dia hanya bisa meneteskan air mata ketika kedua anaknya menjawab ingin kuliah. Air mata yang dia teteskan adalah air mata kesedihan, karena dia berpikir, darimana uang yang harus dia dapatkan untuk membayar uang kuliah kami berdua jika untuk makan sehari-hari saja sangat pas-pasan. Dia bertanya, kenapa sehabis lulus SMA tidak langsung bekerja saja? Maklum, di keluarga Ibu dan Bapak saya (paman dan bibi), tidak ada satupun yang pernah berkuliah, bahkan ibu dan bapak saya saja Cuma lulusan SMA. Tapi hebatnya Ibu saya, dan mungkin seperti ibu yang lainnya, dia tidak mematahkan semangat kami untuk bercita-cita bisa berkuliah. Dia bilang, rajin sekolah, belajar dan rajin shalat serta berdoa supaya bisa berkuliah. Dia tidak menunjukan ke kami, bahwa di dalam hatinya sangat sedih karena mungkin tidak bisa mewujudkan impian kami berdua. Dan beberapa tahun lalu, ketika saya akhirnya lulus kuliah, dari salah satu Universitas Negeri ternama di negeri ini, mungkin hanya Tuhan yang mengetahui apa yang Ibu saya rasakan waktu itu dan ketika menceritakan kembali ke saya cerita tentang cita-cita saya waktu SMP.
Ibu saya orang yang sangat sederhana, jika denga bahasa secara halus jika tidak mau disebut kampungan . Dia lebih nyaman makan langsung pake tangan dibanding pake sendok. Hobinya menonton sinetron. Sangat sulit untuk bersentuhan dengan teknologi. Bahkan memakai handphone saja baru beberapa tahun belakangan ini, itupun hanya tahu telepon saja, tidak mau memakai sms. Agak berbeda dengan tante-tante saya (adik dari ibu saya) yang sering ganti-ganti HP. Mungkin karena mereka wanita karir semua.
Tapi dibalik kesederhanaan dan keluguan ibu Saya, dialah yang tidak pernah lupa mengingatkan saya untuk mengaji Yasin setiap malam jumat, mengingatkan untuk Shalat tepat waktu, membangunkan untuk Shalat Shubuh, mengingatkan untuk jangan lupa mengaji dan khatam alquran, bahkan dari kecil entah sudah berapa kali ganti guru ngaji yang datang ke rumah. Selalu mengajarkan dan mengingatkan saya untuk jangan pernah lupa bersedekah dan membagi sedikit rezeki saya ke saudara-saudara yang kurang mampu. Dia selalu mengajarkan untuk hidup sederhana dan tidak melihat ke atas.
Dan seperti ibu-ibu lainnya, tentu yang paling saya rindukan apalagi ketika saya dulu berkerja di luar pulau Jawa selama 2,5 tahun adalah masakannya yang tidak ada bandingannya. Bagi lidah saya, masakan ibu saya walaupun Cumatempegoreng, sambal dan sayur asem itu belum ada bandingannya sampai saat ini. Walau kadang ibu saya suka kesal, ketika sudah capek-capek memasak enak dan lengkap, namun karena menunya tidak sesuai selera, saya lebih memilih bikin telor ceplok atau indomie goreng untuk makan.
Well, itu cerita sedikit tentang ibu saya. Rasanya banyak sekali yang bisa saya tulis jika harus menceritakan tentang ibu saya. Tapi biarlah semuanya Allah yang mencatat betapa hebatnya Ibu Saya di mata saya.
Dan jika ditanya, apa cita-cita saya untuk Ibu? Cita-cita saya sederhana: Semoga bisa memberangkatkan Ibu dan Bapak saya ke tanahsucidengan uang saya sendiri sebelum mereka dipanggil Yang Maha Kuasa. Minta doanya ya. :’)
So, sudahkah kalian menelepon Ibu kalian hari ini dan mengucapkan Selamat Hari Ibu?
Ps: Mah, maafin anakmu ya kalo suka lupa pulang ke rumah walau Cuma 2 jam perjalanan, Dan suka lupa ngasih kabar dan gak pernah telepon seminggu penuh karena saking sibuknya.
-dendiout-

terharu baca cerita tentang Mamah-nya
amin, semoga citacita memberangkat orangtua ketanah suci segera terlaksana
misstitisari said this on 29 December , 2011 at 10:19 am |