Malam saat Ran Mouri melihat Sinichi Kudo untuk terakhir kalinya
When you love someone – you’ll sacrifice
You’d give it everything you got
And you won’t think twice
You’d risk it all – no matter what may come
Terdengar pelan salah satu lagu kesukaannya, – Bryan Adams – When You Love Someone, tentu saja selain lagu favoritnya yang lain yaitu suara laut dan detak jantungku – yang keluar dari speaker telepon genggamku. Benda itu masih terasa panas, setelah pembicaraan panjang dan keras di antara kami.
Malam itu, langit penuh warna, bunyi ledakan dan terompet terdengar dari seluruh penjuru hingga ke kamarku yang sempit ini, tahun telah berganti, namun aku sendiri, di kamarku yang penuh bau asap rokok ini, menyisakan tangis yang tak bisa keluar, tertahan di dalam rongga dada.
When you love someone you’ll do anything
You’ll do all the crazy things that you can’t explain
You’ll shoot the moon put out the sun
There’ll be times that you’ll believe you can really fly
Lagu Bryan Adams itu terus mengalun dari telepon genggamku. Dan 60 jam belum tertidur pulas sama sekali kadang bisa membuatmu melakukan hal gila. Jam di tanganku menunjukkan pukul 3 pagi. Kupakai jaket jeans favoritku dan tas punggungku. Dinginnya angin fajar tak bisa mendinginkan otakku. Jalanan sudah sepi. Acara pergantian tahun telah berakhir. Hanya tinggal beberapa kumpulan orang yang masih duduk di pinggiran jalan tempat berdirinya patung sepasang anak laki-laki dan perempuan yang terus bergandengan tangan. Seperti tak ada yang akan memisahkan mereka berdua. Di larutnya fajar dinihari, aku pun terbang menembus awan. Melintasi lautan, menempuh jarak 2200km menuju tempat dimana sinar mentari pertama di tahun ini tiba lebih awal daripada kota ini. Mencari sebuah jawaban, atas sebuah pertanyaan cinta. Sebuah perjalanan menjemput luka.
Come up to meet you, tell you I’m sorry,
You don’t know how lovely you are.
I had to find you, tell you I need you,
Tell you I set you apart.
Sebuah lagu berjudul The Scientist dari Coldplay mengajak ingatanku ikut terbang tepat ke seminggu yang lalu. Saat hari terakhir kunjungannya di kota ini bersamaku. Pagi itu sebelum mengantarkannya pulang, di pelukannya aku menangis tiba-tiba. Tangis pertama yang kuperlihatkan di depan seorang wanita.
“kamu kenapa?” tanyanya saat itu
Aku cuma menggelengkan kepala dan air mata terus tumpah tanpa alasan. Rasanya itu adalah hari terakhir bertemu dengan dirinya. Entah kenapa, aku pun tidak tahu. Dan ketika di bandara, ketika melepas kepergiannya, setelah dia mencium tanganku dan kukecup keningnya, sekali lagi aku memeluknya dengan erat. Sangat erat sekali. Tahukah kawan cerita tentang Ran Mouri dan Sinichi Kudo? Ingatkah malam ketika Ran menatap Sinichi lama sekali dan kemudian memeluknya. Dan setelah itu, Sinichi tak pernah kembali, karena diberi racun oleh komplotan jubah hitam dan berubah menjadi anak kecil bernama Conan Edogawa. Mungkin apa yang dirasakan Ran waktu itu sama denganku.
Sekarang baru aku tersadar, cintaku kini telah pergi. Tapi aku yakin dia pasti kembali, membawa kembali separuh hatiku yang pernah kutitipkan padanya.
Kupercaya alam pun berbahasa,
ada makna di balik sebuah pertanda
firasat ini rasa rindukah atau tanda bahaya?
Aku tak perduli, ku terus berlari
inspired from Faisal Reza’s note

[...] Previous story: Malam Saat Ran Mouri Melihat Sinichi Kudo Untuk Terakhir Kalinya. [...]
The Untold Story About This Year « DendiBanget said this on 31 December , 2011 at 4:39 pm |