Mayat-Mayat Cinta (bag.2)
Bab 2
Mein Name Ist Aisha
Sebuah Metro kusam datang menghampiri. Beberapa orang turun, setelah itu barulah seorang wanita bercadar naik ke dalam Metro itu. Setelah beberapa detik memperhatikan seisi Metro, kemudian dia memutuskan untuk duduk di sebuah bangku kosong agak kebelakang karena dia merasa duduk di pangkuan sang supir sepertinya bukanlah suatu kebiasaan umum orang-orang Negara ini.
Metro terus melaju. Duduk sendirian di dalam Metro yang agak sepi, sang wanita bercadar itu pun kembali terkenang pertemuan pertamanya dengan Fahri yang juga terjadi di sebuah Metro. Kala itu dia sangat terpana terhadap Fahri yang membela 2 orang warga Amerika yang hampir celaka oleh orang Mesir.
Tapi semakin lama dia mengenang kejadian itu, semakin aneh perasaannya. Metro itu tidak sama dengan Metro yang dia naiki sekarang. Metro yang dia naiki kali ini hanya memiliki satu gerbong. Tidak memiliki pintu otomatis. Metro ini tidak berhenti di setiap Mahattah. Metro ini berwarna orange dan biru. Di dalamnya ada orang yang bernyanyi dengan membawa gitar sedangkan di dekat pintu- yang terbuka terus selama perjalanan- ada seorang pria yang berteriak-teriak nama tempat. Di kaca depan Metro terdapat sebuah angka bertuliskan 640. Wanita itu kemudian mengetahui bahwa Metro ini memiliki nama panjang yaitu Metro Mini dan Metro Mini yang dia sedang naiki adalah jurusan Tanah Abang- Pasar Minggu.
Aisha sedang berada di Jakarta sekarang. Dia akan menghadiri Konferensi Pengusaha Warung Tegal se-Indonesia di Balai Sarbini. Fahri tidak ikut bersama Aisha karena masih tertidur di salah satu hotel di bilangan Tanah Abang setelah begadang semalaman mencoba menamatkan game GTA IV di PS2-nya.
Tidak lama lamunan Aisha pun buyar ketika ada seorang pria yang mencolek pundaknya. Kemudian pria itu berkata dengan suara yang berat tapi seksi sambil mengulurkan tangannya ke arah Aisha.
“Maap Neng, ongkosnyah?” Tanya pria itu.
Lalu Aisha pun menatap pria yang tadi mencolek pundaknya itu. Terlihatlah seorang pria gagah, tinggi, berwajah tampan, berhidung mancung dan bermata biru, kulit putih dengan sebuah handuk terkalung di lehernya, beberapa butir keringat menetes dari keningnya dan beberapa keping uang recehan di tangan kirinya. Kini giliran kondektur itu yang bingung karena ditatap oleh soeorang wanita bercadar.
“Maap Neng, bisa minta ongkosnyah?” Tanya kondektur itu sekali lagi.
“Hah? Ongkos? Was is dast? wie heißt du?” Tanya Aisha ke kondektur refleks memakai bahasa jerman karena nervous dan to the point pengen kenalan.
“Fredy. Mein vollständiger name ist Fredy Newreal. Urang Garut Asli. und was ist Ihr name?”
“Mein name ist Aisha. Sprechen sie Duetcsh?” Tanya Aisha coba menyakinkan dirinya bahwa lawan bicaranya itu apakah memang bisa bahasa Jerman atau tidak.
“Ja, ein wenig. Saeutik-eutik mah tiasa atuh. Sekarang ongkosnyah Neng!! Abgabe? Money? You must pay for riding this bus, understood?”
“Oooh, ongkos. Ini uangnya” jawab Aisha seraya menyerahkan selembar uang seribuan.
“Nah tuh tiasa ngomong basa Indonesia. Ti tadi kek, bikin lieur ajah nih si Eneng mah. Eh, Neng…Maaf Neng?”
“Kenapa lagi mas? Kalo lebih ambil aja kembalian buat situ!!”
“Bukan lebih, tapi malah kurang. Kurang serebu nih”
“Aduh, uang saya 50ribuan. Ada kembalinya?”
“bentar, diliat dulu yah! Oh ada nih”
“ya udah dipake dulu aja kembalinya!!”
“Yeee..si eneng Mah. Ya udah, gapapah kurang juga buat si eneng mah.”
“Danke. Bis später”
“Yoi. Sim-sim”
Kemudian si kondektur melanjutkan menagih ongkos ke penumpang selanjutnya. Seorang wanita bule berambut pirang. “Excuse-moi. Frais, s’il vous plait?”
Aisha kembali ke lamunannya. Dia menatap ke arah jendela. Melihat orang-orang di pinggir jalan. Dia berpikir, betapa beda sekali ketika dia masih tinggal di Jerman. Di Jerman, semua orang bertampang bule, sedang disini tidak. Di Jerman, semua orang berbahasa Jerman, sedang disini sedikit sekali yang bisa berbahasa Jerman, satu diantaranya si kondektur tadi. Ketika dia tinggal di Mesir, hampir seluruh orang bisa berbahasa Arab, sedang disini tidak. Waktu dia di Inggris, anak kecil saja sudah pintar ngomong Inggris, sedang disini tidak. Aisha merasa kasihan dengan penduduk negara ini. Lalu dia mengepalkan tangan kanannya, jari telunjuk diacungkan dan menggoyangkan tangannya dari atas ke bawah sambil berkata “Kasiaaan deh Lo!!”.
Metro eh ehmm maksudnya Metro Mini berhenti di sebuah Plaza di bilangan Semanggi. Si Kondektur berteriak “Para Laskar Plangi* boleh turun disini.”
Kemudian Aisha turun dari Metro Mini tersebut. Menurut dia sangat menyenangkan naek Metro Mini, supirnya wangi-wangi, kondekturnya berwajah tempan, keren dan multi-languange lagi. Berikutnya dia akan mencoba angkutan umum lainnya, dia sudah membuat daftar : Kopaja, Debora, PPD, Bajaj dan terakhir Bemo. Namun berikutnya dia akan mengajak suaminya Fahri.
Aisha kemudian masuk ke gedung yang bertuliskan Balai Sarbini itu. Gedung sudah dipenuhi oleh orang-orang. Aisha diundang ke acara tersebut karena usaha warung tegalnya yang bernama Warteg Complicated sudah sangat sukses hingga hampir menyaingi jaringan Rumah Makan Padang Sederhana.
Di Forum itu Aisha didaulat menjadi Pembicara sekaligus Motivator untuk sekitar seribu orang pengusaha Warteg.
“Saudara-saudara, Jika kita ada kemauan, disitu pasti ada jalan. When there is a will, there is a way. Selama ini kita kalah oleh Rumah Makan Padang karena kita kurang bersatu. Kita jalan-jalan sendiri. Hari ini saya menawarkan kita untuk bersatu. Bersatu atas nama Bendera Warteg Complicated. Dengan satu Brand Image yang sama, kita tentukan standar kualitas kita. Walaupun berbeda-beda warung tegal, tetapi Satu Merek, Jenis Makanan yang sama, Rasa yang sama, Standar Layanan yang sama dan harga yang sama. Untuk menetapkan standar porsi nasi, kita akan pasang label Pasti Pas di setiap Warung Tegal Complicated. Saya yakin jika kita bersatu, kita tidak hanya bisa mengalahkan jaringan Rumah Makan Padang, tetapi juga Jaringan Bioskop 21, Blitz, dan jaringan Pusat Perbelanjaan Town Square. Kelak, di setiap bioskop 21 akan berdiri Warung Tegal. Popcorn sudah tidak musimnya. Orang yang nonton Bioskop akan membawa Nasi Bungkus dari Warung Tegal. Kita Bisa, Harus Bisa, Pasti Bisa!!!! Yes, yes, Yes!!! Go, Go, Go Warung Tegal.”
Para pengusaha Warung Tegal bertepuk tangan riuh sambil berdiri. Lalu mereka meneriakan nama Aisha.
“Aishaaaa!!!” teriak satu orang.
“Au….Au….Au” teriak ratusan orang lainnya menirukan pasukan Sparta pimpinan Raja Leonidas.
***
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Sudah hampir 30 menit Aisha menunggu taksi di Halte Benhil, tapi tidak ada satupun yang lewat. Jalanan sudah sangat sepi. Di seberang jalan sana hanya terlihat beberapa wanita yang sedang menggoda pria berkumis yang sedang lewat. Di tangga jembatan penyebrangan, tampak seorang Ibu pengemis yang sedang tertidur sedangkan anaknya sedang asyik bermain PSP.
Udara semakin dingin, angin malam bertiup menusuk tulang. Bulu kuduk Aisha tiba-tiba berdiri.
“Halo Aisha, Apa kabar? Sedang nunggu taksi ya?” tiba-tiba sebuah suara wanita terdengar dari belakang telinganya.
Aisha pun menoleh melihat asal suara itu.
“Maaaa…Ri….Aaaaa?” Suara Aisha sedikit tercekat ketika mengatakan nama itu. Alis Aisha sedikit terangkat, mulutnya menganga lebar dan kamera men-zoom-in dan men-zoom-out wajah Aisha berkali-kali.
- To Be Continued Again-
*Laskar Plangi= orang-orang yang sering kongkow di Plangi. Thx to Diah Arliani for the phrase.
hahahahha,,,
pengen baca lanjutan ny nih…
gokil abies…
sip sip.,..
7 February , 2009 at 5:06 pm
dendaaaaiiiii,,,udah lah lo di sana aja terus biar makin kreatip….hueewww,,eniwei tengkyu for mention me..hihihi
8 February , 2009 at 12:06 am
sakit lo sakit sumpah udah terusin aja jadiin buku hahahaa
10 February , 2009 at 10:52 am
ditunggu lanjutannya ya..
27 February , 2009 at 3:18 pm