Archive for February, 2009

Jejaring Sosial dan Seseorang dari Masa Lalu

Dulu, waktu jamannya friendster pertama kali keluar, gue sangat kagum sekali sama kehebatan ini website. Yang membuat kagum bukan karena kita bisa pasang foto dan profile kita disitu, tapi manfaat dari Friendster itu yang bisa mempertemukan kembali teman2 lama gue. Bukan hanya teman2 sma yang memang saat itu kebetulan baru berpisah karena baru lulus sma, tapi bahkan sampe temen2 smp, sd dan tk. Orang2 yang dah ga pernah ketemu sama kita belasan tahun lamanya, atau terpisah ribuan kilometer. Semacam tali kasih versi internet.

Sekarang, masa Friendster sudah berakhir, digantikan sama yang namanya Facebook. Walau fitur-nya jauh lebih maju, tapi fungsinya tetap sama: menghubungkan antar teman2 kita. Maka disebut jejaring sosial.

Berawal dari iseng dengan men-search sebuah nama. kemudian nama itu muncul. Dia ikutan facebook juga. Gue ga menyangka dia muncul karena waktu masih di friendster, gue pernah mencoba tapi ga pernah muncul.

Dia, seseorang dari masa lalu. udah hampir 7 tahun gue ga pernah ketemu. Gue ga pernah tau sama sekali kabarnya lagi. Dia seperti menghilang dari bumi. Dulu dia dan gue berpisah dengan kurang baik. Gue klik nama itu, gue baca profilenya, wall2 dari temen2nya, serta foto2nya. Dia sedikit berubah, jauh lebih dewasa dari terakhir gue lihat.

Lalu batin gue pun bingung, apakah gue harus meng-add dia menjadi temen gue atau membiarkan kita berjalan2 masing seperti sekarang?

Tapi lalu dengan niat ingin menjalin silaturahmi, akhirnya gue memberanikan meng-add dia. dan tak lupa gue sisipkan sebuah pesan

“I Hope we still could be friend.”

____________________________________________________

From the Producer who watched ADA APA DENGAN CINTA

From the Director’s ex-driver of LASKAR PELANGI

From the Elementary school old friend of The Creator of JELANGKUNG

“What The F***???”

New York Times

Opo iki?

Mbah Mizone Marijon, Movie Criticus

poster-mayat_mayat_cinta

coming soon on march 2009


Ponari and the Sorcerer’s Stone (picts ed.)

Well, ternyata hasil keringat Ponari yang dicelup batu bertuah dapat mengganti ion-ion tubuh yang hilang.

1ponari31

1ponari4


Kejujuran itu…..

Kejujuran itu seperti es krim, kalau tidak dilahap bakalan cepat meleleh, hilang ditelan hawa panas. Bisep di tangan itu kan otot fisik, nah kejujuran itu otot mental dan otot harus dilatih terus biar kuat. Dan untuk hari ini latihan kejujuran gue: Jujur pada diri sendiri.

Gue takut, takut kalo intuisi gue mengenai banyak selama ini salah. Gue takut, takut kalo gue bangun besok matahari ga muncul di timur. Atau gimana kalo gue bangun besok kalau hati bisa salah..

Pernah ada….rasa cinta…antara kita kini tinggal kenangan …….

Sebuah lagu dari Gaby pun mengalun dari winamp yang disetel dari komputer server di ujung sana.

Dan gue pun kepikiran…..hmmm kayanya enak juga ya jadi Gaby., gara-gara pacarnya mati, bikin lagu terus jadi terkenal.

Jadi rencana gue: cari pacar, terus dibunuh, bikin buku lalu terkenal.  yeah, perrfect idea.

ah sudah malam. maafkan gue yang ngaco ini.

(gue baru sadar, ternyata lagu Gaby/ Caramel ini enak juga,  lagunya menyentuh, membuat bulu kuduk berdiri- literally)

-dendiout-


Ponari and The Sorcerer’s Stone

Syahdan, di sebuah desa kecil di pedalaman Jawa Tengah terdapatlah sebuah keluarga kecil bahagia dan sejahtera karena sejak dahulu mereka ikut program pemerintah Keluarga Berencana. Keluarga itu terdiri dari Sang Ayah, Sang Ibu, Sang Anak dan Sang Kodok. Sang Ayah bernama Ponaryo seorang atlit sepakbola, Sang Ibu bernama Ponori seorang aktris senior, Sang Anak bernama Ponari dan Sang Kodok bernama Jefri. Walaupun Sang Kodok hanya seekor binatang peliharaan, tapi keluarga itu sudah menganggap sebagai anak sendiri karena kehadiran Sang Kodok melengkapi program Keluarga Berencana yang mereka ikuti.

Suatu hari, Ponari Sang Anak menangis di kolong meja. Di tangannya terdapat sebuah lembar surat. Surat itu berasal dari Jefri Sang Kodok. Sambil terisak-isak, Ponari membaca sekali lagi surat dari Jefri tersebut.

“Dear Ponari, saudaraku yang berada di kolong meja. Ketika kau membaca surat ini, Krisdayanti mungkin sedang bernyanyi, Luna Maya mungkin sedang jalan sama Ariel, Aura Kasih mungkin sedang menangis dan Aku mungkin sudah berada jauh dari rumah. Maafkan aku karena pergi tidak bilang-bilang dulu karena kalau bilang-bilang pasti aku tidak bisa membongkar celengan ayam kepunyaanmu. Aku pergi bukan karena tidak betah tinggal di rumah, tapi ada suatu urusan yang harus kuurus. Aku pergi ingin mencari sahabat lamaku Sang Kambing. Mungkin kau tidak tahu, tapi Kodok dan Kambing adalah sahabat lama. Kalau kau tidak percaya, tanyakan kepada Mbak Suzan. Aku akan meminta bantuan tim Termehek-mehek untuk mencari Sang Kambing. Mudah-mudahan Mbak Panda dan Mas Mandala dapat membantuku. Tapi aku pasti kembali, dalam satu purnama, untuk mempertanyakan kembali Cinta, bukan untuknya, bukan untuk siapa, apalagi untuk cowok-so-cool-bernama-Rangga, tapi untukku. Tolong jangan menangisi kepergianku, tapi tangisilah celenganmu yang telah kubobol buat ongkos di jalan. Salam buat Bapak sama Emak. Mohon maaf kalau ada salah, karena yang benar datangnya dari Tuhan dan yang salah dari Manusia, semoga kita dapat berjumpa lagi di acara dan jam yang sama, dimana lagi kalau bukan di acara Dorce Show…Show…Show…
Wassalam.

TTD

Jefri Sang Kodok”

Setelah membaca surat itu, Ponari langsung berlari ke luar rumahnya. Dia terus berlari menuju hutan, belok ke pantai, mandi sebentar, lalu lanjut berlari menuju pasar. Sepanjang jalan, dia meneriakkan nama Jefri. Beberapa tukang ojek dan tukang becak yang bernama Jefri mendatangi Ponari, namun mereka kecewa ketika Jefri yang dimaksud ternyata bukan mereka. Ponari terus berlari memanggil nama Jefri, tak kenal lelah. Dia tidak peduli walau saat itu hujan turun deras dan Krisdayanti mau cerai.

Ponari kembali sampai di pantai. Hujan masih turun dengan deras dan petir menyambar-nyambar. Ponari bersender di sebuah pohon kelapa. Lalu langit tiba-tiba semakin gelap, kabut tebal mengelilingi seluruh pantai, dan angin puting beliung bertiup dari segala penjuru. Petir menyambar pohon kelapa tempat Ponari bersender. Pohon kelapa itu terbelah dua dan dari dalam pohon kelapa itu keluarlah sebuah kelapa muda. Ponari langsung memakan kelapa muda itu tanpa basa-basi.

Di dalam buah kelapa muda tersebut, Ponari menemukan sebuah batu. Batu itu berwarna hitam, berbentuk seperti tabung dan berukuran sekepalan tangan orang dewasa. Di dekat batu itu terdapat sebuah kertas. Ponari pun membaca isi tulisan yang ada di kertas tersebut.

“Wahai anak muda, pertama-tama kami ucapkan selamat karena kamu adalah orang yang terpilih untuk memiliki batu yang kau pegang itu. Batu ini bukan sembarang batu, tetapi ini adalah Batu Bertuah atau Sorcerer’s Stone dalam bahasa Inggrisnya. Batu bertuah ini memiliki keajaiban yang dapat merubah dunia jika kau menggunakannya dengan benar. Batu ini dapat mengusir penjahat yang akan mencelakanmu. Untuk menggunakannya cukup lemparkan batu ini ke kepala penjahat tersebut dan mudah-mudahan penjahat itu akan lari. Tapi bukan itu fungsi utama batu bertuah ini. Batu ini memiliki kekuatan di dalamnya. Energi yang berasal dari Petir dan Kilat. Sebuah energi yang sangat besar yang cukup untuk membuat cahaya atau menggerakan sesuatu. Kekuatan batu ini dapat juga bertambah dengan mendekatkannya ke sinar matahari. Tapi ingat jangan sekali-kali kau mencelupkannya ke dalam air karena khasiat luar biasa dari batu ini akan musnah. Ingat ini baik-baik. Gunakanlah batu ini dengan benar dan hanya untuk kebaikan dan jagalah dengan baik.

Salam Gaul

Al-Kaline“

-dendiout-


Sebuah Sampah

Cuma tulisan curhat iseng di malam hari. Ga dibaca juga gapapa. Ga ada unsur komedinya.

Ketika masih sekolah dulu, dari sd sampe sma, entah kenapa gue kurang suka sama pelajaran bahasa Indonesia.  Terutama kalo yang diajarin bab tentang sastra. Padahal gue termasuk orang yang suka baca novel, puisi, cerpen, naskah drama dan hal-hal sastra lainnya (jauh sebelum booming Rangga AADC sang Cowok Sastra lahir). Dari 18 tahun sekolah, kayanya Cuma waktu kelas 3 sma gue suka pelajaran bahasa Indonesia. Karena guru waktu itu mau menghargai apa yang gue tulis—tulisan yang berbeda. Ketidaksukaan gue lebih dikarenakan para guru-guru tersebut kadang mentafsirkan sebuah karya sastra hanya satu tafsir—-tafsir yang tertulis di buku atau tafsir dari mereka sendiri, sedangkan tafsir yang berbeda dengan itu adalah salah. Walopun memang pada awalnya mereka menawarkan kepada murid-muridnya untuk memberikan pendapat, tapi akhirnya yang keluar hanya satu hasil, sedangkan yang lainnya dianggap salah. Itu yang membuat gue ga suka, karena menurut gue sastra adalah tempat kita bebas berekspresi.

Ngomongin pelajaran bahasa Indonesia, jadi teringat sama pelajaran mengarang. Iya, selain bab sastra, gue juga kurang suka bab tentang mengarang. Sebenernya sih, kalo mau dibahas, selain bahasa Indonesia, gue juga kurang suka pelajaran matematika, ipa, ips, ekonomi, bahkan olahraga. (eh itu sih semuanya ya?). gue Cuma seneng kalo pas pelajaran kosong. Tapi mari kita kesampingkan pelajaran2 lainnya, karena kalo dibahas bisa sampe 100 halaman. Kembali ke soal mengarang.

Dalam membuat suatu karangan, ada beberapa tahapan. Pertama tentukan tema, dapet tema, kemudian tentukan judul. Setelah dapet judul, buat kerangka karangan yang terdiri dari kalimat inti dan beberapa kalimat anak. Bagian karangan harus memuat awal/pembuka, isi, dan penutup. Setelah itu baru kembangkan karangan berdasarkan kerangka karangan tersebut. Dan jangan lupa, jenis karangan terdiri dari deskriptif, naratif, persuasif, argumentatif dll. Masing-masing berbeda cara penulisannya. (judul bisa juga ditentukan setelah isi karangan selesai 100%).

Nah, hal diataslah yang membuat gue ga suka sama pelajaran mengarang. Kalo menurut gue, nulis ya nulis aja, terserah isinya mau berformat apa, berbentuk apa, yang penting enak buat dibaca. Mengalir seperti aer kencing. Kalo kata orang HRD, gue tipe orang yang berorientasi pada hasil, bukan berorintasi pada proses, apalagi berorientasi menyimpang. Mungkin karena itu, gue selalu bingung pas ujian Bahasa Indonesia ketika disuruh membuat karangan yang diwajibin menuliskan tahapan2 tersebut sebelum membuat karangan. So, sering hasilnya Tema kemana, judul kemana, kerangka karangan kemana, isi karangan kemana. Dan tentang jenisnya, jadinya nyampur antara naratif, deskriptif sama persuasif. Dan mungkin karena itu juga nilai bahasa Indonesia gue selalu dapet 6 atau 7 di buku rapot (eh apa buku raport atau report ya yg bener?).

***

Bertahun2 berlalu, dan sekarang gue harus menghadapinya. Mencoba menerima bahwa apa yang beliau2 telah ajarkan dulu di papan tulis adalah suatu kebenaran yang harus gue terima. Bahwa hidup itu butuh proses. Tanpa proses gue ga bisa ngeliat hasil yang ada di ujung sana. Harus ada tahapan2 (yang sangat gue benci itu) yang mesti gue lalui. Tempat2 yang harus gue singgahi dulu sebelum sampai ke tempat tujuan. Karena dengan proses itu, hasilnya lebih terarah dan gue punya panduan untuk sampai ke tempat tujuan.

Waktu sma gue pernah menulis begini:
Tulisanku berhenti di sini………… karena sebuah kata yang kucari ternyata tidak ada meski sudah berkali-kali kucari dan kuteliti di setiap lembar kamus, namun memang tak ada. Lalu kebisuan itu hinggap di ujung penaku yang membeku. Ternyata KEINDAHANMU sama sekali tak bisa kucairkan lewat kata…

Sebuah pesan yang tidak sempat tersampaikan.

Tapi kali ini gue Cuma bisa nulis ini:
Tulisanku berhenti disini…….bahkan sebelum aku memulainya.

Memang, markirin mobil itu gampang, tapi ga gampang jadi tukang parkir. Mengemis itu gampang, tapi ga gampang jadi pengemis. Menyupir itu gampang, tapi ga gampang jadi supir. Menyanyi itu gampang, tapi ga gampang jadi penyanyi. Me…….itu gampang, tapi ga gampang jadi pe………

Jadi haruskah gue menyerah aja?

-dendiout-


Mayat-Mayat Cinta (bag.2)

Bab 2

Mein Name Ist Aisha

Sebuah Metro kusam datang menghampiri. Beberapa orang turun, setelah itu barulah seorang wanita bercadar naik ke dalam Metro itu. Setelah beberapa detik memperhatikan seisi Metro, kemudian dia memutuskan untuk duduk di sebuah bangku kosong agak kebelakang karena dia merasa duduk di pangkuan sang supir sepertinya bukanlah suatu kebiasaan umum orang-orang Negara ini.

Metro terus melaju. Duduk sendirian di dalam Metro yang agak sepi, sang wanita bercadar itu pun kembali terkenang pertemuan pertamanya dengan Fahri yang juga terjadi di sebuah Metro. Kala itu dia sangat terpana terhadap Fahri yang membela 2 orang warga Amerika yang hampir celaka oleh orang Mesir.

Tapi semakin lama dia mengenang kejadian itu, semakin aneh perasaannya. Metro itu tidak sama dengan Metro yang dia naiki sekarang. Metro yang dia naiki kali ini hanya memiliki satu gerbong. Tidak memiliki pintu otomatis. Metro ini tidak berhenti di setiap Mahattah. Metro ini berwarna orange dan biru. Di dalamnya ada orang yang bernyanyi dengan membawa gitar sedangkan di dekat pintu- yang terbuka terus selama perjalanan- ada seorang pria yang berteriak-teriak nama tempat. Di kaca depan Metro terdapat sebuah angka bertuliskan 640. Wanita itu kemudian mengetahui bahwa Metro ini memiliki nama panjang yaitu Metro Mini dan Metro Mini yang dia sedang naiki adalah jurusan Tanah Abang- Pasar Minggu.

(more…)


Quote of The Day

LEBIH BAIK GAK PUNYA APA-APA, DARIPADA PUNYA TAPI KENAPA-KENAPA

Atau dalam kasus yang gue liat sekarang

JOMBLO ITU SAKIT, TAPI LEBIH SAKIT PUNYA PACAR YANG SELINGKUH

__________________________________________________

*demi masang banner kambing jantan, untuk sementara banner dendibanget berpindah jadi sticky post yang ukurannya kecil. ya mudah2an it’s really worthed.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.