Kontemplasi Seperempat Abad
Matahari senja perlahan mulai turun, semilir angin gunung bertiup mengibaskan rambutku. Kuberdiri di antara gunung-gunung ini, menatap ujung cakrawala itu tempat kembalinya sang mentari ke peraduan, berganti giliran berjaga dengan sang rembulan……beuuugh serasa ending song film saint seiya banget.

Yang pasti ini bukan Saint Seiya
Sang surya pun menghilang, mendatangkan kegelapan ke muka bumi, sementara debu jalanan yang dibuat oleh kendaraan yang melintas, mendatangkan jerawat ke mukaku. ASU!!!
Kumenoleh ke belakang, menatap jejak kaki yang terjalani selama seperempat abad. Mencoba mengingat kembali, setiap persinggahan, setiap jalan yang kulewati, setiap mahluk yang kutemui, serta apa saja yang telah teraih dan apa saja yang telah menghilang. Mungkin kedekatanku dengan Sang Pencipta –yang kini mulai terkikis habis- yang paling kurindukan.
Ditemani sebatang ini, secangkir itu, sepiring si ikal, secuil akses jaringan ke alam semesta dan sejumput harapan, seperti ribuan pagi dan ribuan malam yang biasa kulewati bersama mereka selama setengah dasawarsa ini, kucoba merangkai kembali kepingan-kepingan puzzle dari hidupku. Ah…ternyata memang banyak yang hilang. Beberapa ada yang kutemukan di kolong meja atau di belakang di lemari, namun bentuknya sudah tidak seperti dulu. Mungkin rusak dimakan usia, rayap, kecoa, atau bahkan tetesan hujan yang betapapun pelannya tapi tetap bisa meninggalkan bekas.
Kumenatap jarum jam yang panjang itu. Hari berganti, alam berganti, dunia berubah, tapi kumerasa masih seperti 10 tahun yang lalu. Mungkin benar apa kata iklan rokok itu, tua itu pasti, dewasa itu pilihan.
Kumelihat sekali lagi sebuah layar kecil di genggaman tanganku, sudah lewat lima menit. Tapi hanya sepi yang kudengar. Tak ada bunyi, tak ada suara…..seperti biasa.

Happy birthday My Dearest Brother……semoga kau tenang di langit sana, dikelilingi para malaikat dan dipeluk para bidadari surga. Semoga kita bisa meniup lilin ini bersama suatu saat nanti di langit sana..….seperti dulu kala.
Dan kuhembuskan nafasku…….kegelapan kembali hadir seiring padamnya api dihadapanku.
Sementara tidak jauh dari tempatku berada…..suara teriakan terdengar dari seluruh penjuru kampung
“ADA BABI NGEPET…..ADA BABI NGEPET…..BABINYA BERUBAH JADI ORANG…BUNUH…BAKAR….RAJAM!!!!!”
dan dengan pelan kuhanya berkata: “Upps….salah lilin!!”.
-dendiout-
dendaiiiiii happy birthday yaaaaa……smg karir penulisnya melesat…hihihihi
24 January , 2009 at 3:24 pm
udah 25 tahun, tobat mas.. jangan ngepet terusss….!!
24 January , 2009 at 10:31 pm
side job ya? hehehe.
3 February , 2009 at 1:45 pm