Kita Tidak Seharusnya Mengutuk Israel

Pengennya ga mau nulis topik ini.
Alesan pertama: udah banyak yang nulis baik di blog2 atau forum2 terus agak lumayan telat, jadi mungkin sedikit basi.
Alesan kedua: gue jarang bisa menulis hal2 yang serius, apalagi masalah sensitif seperti ini. Takutnya bukan malah memberi solusi, malah membuat lebih banyak pro-kontra seperti yang terjadi di blog-nya chi2.

Tapi lama2 gatel juga pengen sedikit berkomentar.
Oke, dimulai aja. (oiya, tulisan ini mungkin agak serius, jadi pake kacamata kamu, singkirkan popcorn dan minuman bersoda dari hadapanmu dan pastikan kamu udah ganti celana dalem. Sudah? Oke, sekarang baru dimulai.)
klik more!!!

Masalah Israel-Palestina semakin memanas setelah pada tanggal 27 desember 2008 kemaren Israel melancarkan serangannya yang kesekian kali ke jalur Gaza. Mungkin kita juga udah cape mengenai perang antara pasukan Israel dan (katanya) pasukan Hamas itu yang dari dulu ga selese2. Tapi yang berbeda kali ini, pasukan Israel tidak lagi menyerang yang (katanya lagi) dicurigai kantong2 pertahanan gerilyawan Hamas. Tetapi mereka sudah menyerang pemukiman sipil. Sudah ratusan anak2, wanita, orang tua dan innocent people lainnya yang mati dan terluka parah. Mereka menyerang sekolah, masjid, rumah sakit dan bahkan berita yang baru aja kemaren gue denger mereka menyerang gudang bantuan milik PBB.

Dari beberapa blog dan forum bahkan milis yang gue baca, hal ini bahkan sudah menjadi perang tersendiri juga antara umat muslim Indonesia yang mendukung Palestina, dan orang yang membela dan membenarkan apa yang dilakukan pasukan Israel serta (tentu saja) sekelompok orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan agar kedua kelompok tersebut bisa berantem.

Di salah satu blog yang juga menulis tentang ini, ada komentar yang menurut gue lucu banget mengenai alasan kenapa Israel menyerang jalur Gaza. Begini bunyinya:
“Tujuan israel menyerang palestina adalah melumpuhkan Hamas.
Hamas menggunakan anak kecil dan penduduk sipil hanya sebagai tameng doang, salah satu taktik perang meraka merebut simpati dunia.”

Lets say, kalo emang itu bener, apakah tentara Israel berhak memborbardir pemukiman penduduk, rumah sakit, sekolah dan rumah ibadah?
apakah azas “for the greater good” artinya “Gapapa anak2, wanita dan orang tua Palestina terluka, yang penting pasukan Hamas musnah. Toh mereka mendukung Hamas juga.”
Kalo iya, hati dan otaknya yang nulis komentar itu harus direndem pake bayclin dulu kayanya.

Di Laws of War padahal udah jelas tertulis:

  • Wars should be limited to achieving the political goals that started the war (e.g., territorial control) and should not include unnecessary destruction;
  • Wars should be brought to an end as quickly as possible;
  • People and property that do not contribute to the war effort should be protected against unnecessary destruction and hardship;

To this end, laws of war are intended to mitigate the evils of war by:

  • Protecting both combatants and noncombatants from unnecessary suffering;
  • Safeguarding certain fundamental human rights of persons who fall into the hands of the enemy, particularly prisoners of war, the wounded and sick, and civilians;

So lets say we don’t know who’s right or wrong on war between Israel and Hamas, but one thing for sure that Israel has againts the Laws of War.
And it means (for the people who still got heart) it’s not longer a religion issue, it’s all about morality and humanity issue.

Just like an european doctor who sent to there said in CNN:
“I don’t see hamas people or something here. All I can see are injured and dead women, children, oldmen and oldwomen here for godsake.”

Dulu, waktu 2 buah pesawat meledakkan gedung WTC, ribuan orang2 tak bersalah terluka dan meninggal. Seluruh dunia ikut berduka dan mengutuk pelakunya.

Kemudian, tragedi bom bali, bom kedubes Australia, bom JW Mariott dan bom2 lainnya. Lagi2 yang menjadi korban adalah orang2 tak bersalah, orang yang tak ada hubungan langsung dengan sasaran utama mereka. Seluruh dunia juga ikut berduka dan mengutuk pelakunya.

(Walopun pelakunya adalah orang islam dan melakukannya demi mati syahid, gue sangat ga setuju dan membenci apa yang mereka lakukan. It’s not what my religion tought to me.)

Dan sekarang, ketika tentara Israel menghujani penduduk Palestina dengan bom, dan yang menjadi korban adalah orang2 tak bersalah, kenapa dunia bungkam? Dan ketika ada yang ingin membantu mereka, dunia memandang aneh ke mereka? Apakah karena sekarang korbannya adalah umat islam? So who’s now talking about religion issue?

Oke, kalo bicara tentang kemanusiaan masih ada yang ga terketuk hatinya dan memandang masalah ini cuma masalah antara Islam dan Yahudi atau bahkan cuma masalah Arab-Palestina dan Yahudi-Israel, sehingga orang Islam Indonesia ga pelu ikut campur, gue bahas dari masalah agama.

Berikut ini sedikit petikan dari email yang gue dapet;
“Nama saya Sayed. Saya bukan druze, Hisbullah, Hamas, PLO atau komunis. Saya adalah Kristen Palestina. Saya telah berjuang bersama Nasrallah dari Hisbullah sejak saya kecil. Melempar tank tank Israel dengan batu dan menyusupkan pesan pesan panglima kepada pejuang kami di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Orang tua saya terbunuh di kamp Sabra dan Shatila , dua puluh delapan tahun lalu. Kata kakek saya mayat mereka begitu menyedihkan. Kapak dan pisau kaum Falangis telah memenggalnya.

Saya adalah Sayed. Kristen Palestina. Selain mayoritas Muslim, Palestina juga terdiri dari pejuang pejuang Kristen. Bahkan George Habbash – pimpinan PLO dari faksi garis keras Kristen Marxist – sebagai orang yang paling dicari cari Israel selain Yaser Arafat.
Kami adalah Palestina. Bukan bangsa Arab atau Bangsa Yahudi. Jumlah penduduk Kristen di tanah suci ini justru terbanyak di Palestina. Bukan di Lebanon.
Pemimpin kami, Abu Ammar, kerap dikenal sebagai Yaser Arafat – yang istrinya seorang Kristen – menepis anggapan bahwa perjuangan Palestina melawan kolonialisme Israel adalah perang agama. Ini perjuangan kemerdekaan suatu bangsa yang mengimpikan memiliki Negara yang merdeka dan berdaulat.

Bahkan Juru bicara pertama kami di Perserikatan Bangsa Bangsa, Hanan Asrawi seorang diplomat Kristen yang tangguh.

Saya tak pernah menerima bahwa negeri kami lahir dari kompromi. Negeri kami semestinya lahir atas persamaan nasib. Bukan kompromi yang diangkat menjadi doktrin Negara. Politik Israel selalu ingin memisahkan bangsa Palestina. Mereka ingin Kristen Palestina dan Muslim Palestina memiliki sikap yang berbeda. Dan ini tidak akan terjadi karena rakyat Palestian selalu bersatu. Kaum Muslimin dan Kristen di Palestina, khususnya di Jerussalem, adalah seperti satu keluarga sejak masuknya Islam ke Palestina,

Lihat saja Uskup Atalla, dari Gereja Orthodok di Jerussalem , mendukung aksi syahid yang dilakukan pejuang Palestina. Bahkan ia menegaskan bahwa aksi syahid itu bukanlah terorisme.
Saya Sayed bangsa Palestina menangis terharu mendengar uskup berkata “ Bila pejuangan kemerdekaan itu dianggap sebagai terorisme, maka sayalah teroris yang paling pertama,” katanya. Menurutnya, siapapun yang berkunjung dan menyaksikan penderitaan rakyat Palestina akan bisa memahami latar belakang atau motivasi yang mendorong para pejuang melakukan aksi syahid.

Saya tak tahu apakah masih ada harapan melawan Israel yang konon dianggap bangsa pilihan Tuhan menurut kitab kitab Taurat. Ini juga bukan Daud yahudi melawan Goliath dari Filistin. Ini adalah sebuah jejak. Jejak penindasan atas hak hak kemerdekaan negeri kami.
Kami tidak membutuhkan mati syahid menurut cara bangsa lain. Kami akan memenangkan pertempuran dengan cara kami sendiri, Cara syahid bangsa Palestina.

Saya adalah Sayed. Saya bangga menjadi Palestina yang utuh.”

Apa arti tulisan di atas, silahkan maknai sendiri. Yang pasti, gue bukannya membawa2 soal agama atau bahkan melibatkan agama laen untuk mendukung gerakan Palestina. The facts tell the truth.

Gue juga ga berpendapat orang2 Islam paling bener dan orang agama laen salah bahkan orang Yahudi semuanya harus dibunuh.
“It’s not what your religion that defines you good or bad, right or wrong, but the people itselves.” -dendi-

Contoh gampangnya, banyak para pelaku kejahatan di Indonesia yang ternyata beragama Islam, dari mulai maling sendal di mesjid, maling ayam, copet, merusak fasilitas umum dengan alasan tempat maksiat, sampe koruptor dan pelaku pengeboman. Tapi bukan berarti kita boleh mengeneralisir Islam agama yang tidak bener.

Coba liat di Amerika Selatan sono! Beragama apakah para maling, copet, pemabuk, bahkan koruptor?

Coba liat di Irlandia sono!! Beragama apakah kelompok teroris IRA itu?

Beberapa tokoh yang gue kagumi: Bunda Theresa dan Mahatma Gandhi. Ga usah ditanya beragama apakah mereka berdua?

Dan yang terakhir Albert Einstein. Tahukah bahwa dia beragama Yahudi. Seorang Yahudi yang menangis dan ingin berhenti menjadi ilmuwan ketika mengetahui bom atom ciptaannya digunakan untuk membunuh ratusan ribu nyawa tak berdosa di Jepang.

Jadi agama ga menentukan apakah lo adalah orang baik atau bukan. Dan gue masih merasa sedih ketika ada orang yang mengidentikkan Islam dengan teroris.

Kalo udah begini, jadi teringat lagunya John Lennon yang berjudul Imagine.

Imagine, by John Lennon.

Imagine there’s no Heaven
It’s easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today

Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace

You may say that I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world

Ah memang indah if all the people living life in peace. Tapi sayangnya itu “masih” hanya sebuah lagu, dan kenyataan kadang memang lebih kejam.
Dan gue pun lebih menikmati sebuah lagu dari Michael Heart

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Dan kembali ke judul di atas, seperti kata salah satu petinggi ormas Islam di Indonesia:
“KITA TIDAK SEHARUSNYA MENGUTUK ISRAEL……….karena mereka sudah lama terkutuk” hehehehehehehe

Sebagai penutup, satu pesen dari gue:
“DON’T MAKE WAR, LET’S MAKE LOVE”
(tapi jangan lupa, nikah dulu ya……)

Peace, love, and G4UL
Salam Planet Remaja
-dendiout-

2 Responses

  1. Sedih bgt liat anak2 kcil tak berdosa bergelimpangan.. Israel emang gak punya hati..lebih baik di bom nuklir aja..

    kekerasan bukan solusi. mari kita doakan saja supaya tidak ada korban lagi
    ciee wise bgt gue

    19 January , 2009 at 11:19 am

  2. Duh, mau baca tapi kepanjangan. Ntar deh balik lagi.

    21 January , 2009 at 3:25 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.